Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, May 9, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2011-2014.

Abstract

INDONESIA:
Kinerja lingkungan perusahaan (environmental performance) adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik (green). Manajemen lingkungan yang baik mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Pencapaian laba perusahaan yang semakin tinggi menandakan bahwa kinerja keuangan perusahaan tersebut baik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah kinerja lingkungan yang diukur dengan penilaian PROPER berpengaruh terhadap profitabilitas yang diukur dengan rasio Return on Asset (ROA) pada perusahaan Manufaktur tahun 2011-2014.
Penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur pada tahun 2011-2014. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengambil data laporan keuangan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan variabel dummy. Dan variabel yang digunakan adalah variabel independen dan dependen.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil uji secara parsial (uji t), variabel PROPER berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Sedangkan berdasarkan hasil uji secara simultan (uji F), variabel independen (PROPER) berpengaruh positif signifikan terhadap variabel dependen yaitu profitabilitas yang diukur dengan rasio Return on Asset (ROA).
ENGLISH:
Environmental performance of a company is the company performance in creating a good environment (green). A good environmental management might improve the financial performance of a company. The achievement of higher corporate earnings in a company indicates that its financial performance is good. This study aims at examining whether the environmental performance measured by using PROPER assessment affect the profitability measured by the ratio of Return on Assets (ROA) in manufacturing company in 2011-2014.
This study is categorized as descriptive quantitative study. The object of this study is manufacturing company in 2011-2014. The data used are secondary data obtained from Indonesia Stock Exchange (BEI) by taking financial report data. The analytical method used is multiple linear regression analysis with dummy variables. And the variables used are independent and dependent variables.
The results of this study shows that based on the results of the partial test (t-test), PROPER variable positively and significantly affects the Return on Assets (ROA). On the other hand, based on the simultaneous test (F test), independent variable significantly and collectively affect the dependent variable which is profitability measured by the ratio of Return on Assets (ROA).


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Memasuki era globalisasi, perkembangan teknologi dan liberalisasi pasar modal dunia berlangsung semakin cepat sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan di dalam kehidupan usaha. Hal tersebut menyebabkan persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik pasar domestik (nasional) maupun pasar global (internasional). Oleh karena itu, banyak perusahaan berusaha memenangkan persaingan dengan meningkatkan mutu produk/jasa, sehingga dapat memberikan kepuasan bagi konsumen. Perusahaan yang tidak mempersiapkan diri untuk meningkatkan mutu kerjanya akan menemui kesulitan dalam bersaing. Prinsip maksimalisasi laba yang ingin mencari keuntungan maksimal justru banyak dilanggar oleh perusahaan, seperti rendahnya manajemen lingkungan, kinerja lingkungan, dan rendahnya akan minat terhadap konservasi lingkungan. Selama ini perusahaan dianggap banyak memberikan keuntungan bagi masyarakat dengan melihat teori akuntansi tradisional bahwa perusahaan harus memaksimalkan labanya agar dapat memberikan sumbangan yang maksimal kepada masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat menyadari akan dampak-dampak sosial yang ditimbulkan perusahaan dalam menjalankan operasinya untuk mencapai laba yang maksimal. Oleh karena itu, masyarakat 2 menuntut agar perusahaan memperhatikan dampak-dampak sosial yang ditimbulkan dan berupaya untuk mengatasinya (Rakhiemah, 2009). Permasalahan lingkungan semakin menjadi perhatian baik oleh pemerintah, investor, maupun konsumen. Investor asing memiliki persoalan tentang pengadaan bahan baku, dan proses produksi yang terhindar dari munculnya masalah lingkungan seperti : kerusakan tanah, rusaknya ekosistem, dan polusi udara (Hasyim dalam Rahmawati 2012). Selain itu di Indonesia sendiri belakangan ini banyak terdapat berbagai konflik industri seperti kerusakan alam akibat eksploitasi alam yang berlebihan tanpa di imbangi dengan perbaikan lingkungan ataupun keseimbangan alam dan lingkungan sekitar seperti adanya limbah ataupun polusi pabrik yang sangat merugikan lingkungan sekitarnya. Masyarakat menginginkan agar dampak tersebut dapat di kontrol karena dampak sosial yang ditimbulkan terhadap kehidupan masyarakat sangat besar. Pemerintah juga harus mulai memikirkan kebijakan ekonomi makronya terkait dengan pengelolaan lingkungan dan konservasi alam. Pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup membentuk Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) yang telah dilaksanakan mulai tahun 2002 di bidang pengendalian dampak lingkungan untuk meningkatkan peran perusahaan dalam program pelestarian lingkungan hidup.
 Kinerja lingkungan perusahaan diukur menggunakan warna mulai dari yang terbaik emas, hijau, biru, merah hingga yang terburuk hitam. Suratno, dkk (2006) menyatakan bahwa environmental performance adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik (green). Pengukuran 3 kinerja lingkungan merupakan bagian penting dari sistem manajemen lingkungan. Hal tersebut merupakan ukuran hasil dari sistem manajemen lingkungan yang diberikan terhadap perusahaan secara riil dan kongkrit. Selain itu, kinerja lingkungan adalah hasil yang dapat diukur dari sistem manajemen lingkungan, yang terkait dengan kontrol aspek-aspek lingkungannya. Pengkajian kinerja lingkungan didasarkan pada kebijakan lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan (ISO 14004, dari ISO 14001). Melalui ini masyarakat akan lebih mudah mengetahui tingkat penataan pengelolaan pada perusahaan (Rakhiemah, 2009). Suatu perusahaan akan mendapatkan peringkat emas jika perusahaan telah secara konsisten menunjukan keunggulan lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggungjawab terhadap masyarakat, peringkat hijau jika perusahaan telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumberdaya secara efisien melalui upaya 4R (reduce, reuse, recycle, dan recovery) dan melakukan tanggungjawab sosial dengan baik, peringkat biru jika perusahaan telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan, peringkat merah jika perusahaan tidak melakukan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana di atur dalam undang-undang dan perusahaan akan mendapatkan peringkat hitam jika perusahaan sengaja melakukan perbuatan atau kelalaian yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan atau pelanggaran terhadap 4 peraturan undang-undang atau tidak melaksanakan sangsi administrasi (http://www.menhl.go.id). Perhatian masyarakat yang semakin besar terhadap pentingnya tanggungjawab sosial perusahaan antara lain dikarenakan timbulnya dampak negatif operasi perusahaan terhadap lingkungan yang semakin tidak dapat ditolelir. Masyarakat menghendaki agar perusahaan lebih menaruh perhatian terhadap kegiatan yang dapat meminimalkan polusi dan menggunakan sumber daya alam secara efektif dan efisien (Schaltegger & Synnestvedt, 2002),. Harsono (2000) mencatat tiga permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas bisnis. Pertama, permasalahan lingkungan hidup, terutama di kota-kota besar, telah dianggap berada pada tingkat yang membahayakan. Masyarakat sudah kesulitan memperoleh air bersih dan menghirup udara segar. Penurunan kualitas atau kerusakan alam ini lebih banyak disebabkan oleh dampak negatif aktivitas industri. Kedua, dalam perdagangan bebas, produk disyaratkan harus bersahabat dengan lingkungan, memaksa perusahaan harus meyusun strategi bisnis yang menyeluruh. Aspek lingkungan tidak boleh dipandang sebagai “program sambilan” bila perusahaan ingin mempertahankan hidupnya. Ketiga, lemahnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat telah menumbuhkan kesadaran akan lingkungan yang bersih dan sehat. Di samping itu, tekanan politis terhadap perusahaan makin kuat akibat pemerintah mengadopsi kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Almilia dan Wijayanto (2007) meneliti tentang pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan terhadap kinerja ekonomi. Kinerja lingkungan 5 diproksi berdasarkan PROPER, sedangkan pengungkapan lingkungan dihitung menggunakan proporsi pengungkapan lingkungan yang diwajibkan dengan yang dilaporkan. Kinerja ekonomi diukur dengan return tahunan industri perusahaan sampel penelitian. Hasil dari penelitian tersebut adalah tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja lingkungan dengan kinerja ekonomi. Sedangkan, pengungkapan lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja ekonomi. Sejak pertengahan 1970-an, banyak perusahaan industri dan jasa besar dunia yang mulai berjuang dengan konsep pelaporan keuangan berkaitan dengan lingkungan. Perusahaan tersebut mulai menerapkan akuntansi lingkungan. Beberapa perusahaan berusaha untuk peduli terhadap laporan keuangan berkaitan dengan biaya lingkungan yang bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental cost) dan manfaat atau efek (economic benefit). Sementara itu, beberapa lainnya bersikap pasif bahkan cenderung untuk menghindari biaya lingkungan tersebut. Industri manufaktur adalah industri yang memiliki kaitan yang sangat erat dengan lingkungan hidup. Betapa tidak, suara-suara yang dihasilkan dari mesinmesin produksi dapat berpotensi menghasilkan pencemaran suara. Alat-alat transportasi yang digunakannya dapat berpotensi menghasilkan pencemaran getaran dan debu. Pemakaian air tanah yang berlebihan, air buangan yang belum memenuhi baku mutu, rembesan minyak/oli, kebocoran bahan bakar berpotensi 6 menghasilkan pencemaran air. Lalu gas-gas yang dihasilkan dapat berakibat pada pencemaran udara bila tidak diperhatikan. Apabila industri manufaktur tidak menangani hal-hal di atas secara baik, tentunya akan berakibat buruk pada perusahaan. Selain terancam pencabutan izin operasi, perusahaan juga akan memperoleh banyak tuntutan dari masyarakat sekitar maupun LSM lingkungan hidup yang akan menyebabkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan menjadi besar. Selain itu, juga akan menutup peluang perusahaan untuk dapat memasarkan produknya ke perusahaanperusahaan yang terkenal ramah lingkungan. Realitanya, kini lingkungan telah menjadi bagian yang sangat penting dalam berbisnis. Terkait hal ini, setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu green consumerism dan lingkungan sebagai non-tariff barrier. Green consumerism menuntut berbagai produk harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat melalui proses yang ramah lingkungan. Di sisi lain, banyak negara, utamanya masyarakat Eropa, memasukkan faktor lingkungan ke dalam perdagangan. Dan, lingkungan menjadi non-tariff barrier. Artinya, untuk memasuki pasar dengan kedua karakteristik tersebut di atas diperlukan kaji ulang atas kinerja lingkungan yang telah dilakukan selama ini. Menurut Schipper dan Vincent dalam Boediono (2005), laporan keuangan menjadi alat utama bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi keuangan mengenai pertanggungjawaban pihak manajemen. Penyampaian informasi melalui laporan keuangan tersebut perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pihak- 7
pihak eksternal maupun internal yang kurang memiliki wewenang untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari sumber langsung perusahaan. Suratno, dkk (2006) meneliti tentang pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan lingkungan dan kinerja ekonomi. Pengukuran kinerja lingkungan menggunakan skoring hasil PROPER. Pengungkapan lingkungan menggunakan skoring pengungkapan (jika melakukan pengungkapan lingkungan diberi skor satu, tidak mengungkapkan skor nol). Kinerja ekonomi menggunakan return tahunan industri bersangkutan. Hasil dari penelitian tersebut adalah terdapat pengaruh signifikan antara kinerja lingkungan dengan pengungkapan lingkungan dan kinerja ekonomi. Pada penelitian Sarumpaet (2005) meneliti tentang hubungan kinerja lingkungan dengan kinerja keuangan. Kinerja lingkungan diukur berdasarkan keikutsertaan perusahaan sampel dalam PROPER dan ISO 14001 dan kinerja keuangan diukur dengan menggunakan return on asset. Hasil dari penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara kinerja lingkungan dengan kinerja keuangan. Menurut Ikhsan (2009) kinerja lingkungan adalah hasil yang dapar diukur dari Sistem Manajemen Lingkungan, yang terkait dengan kontrol aspek-aspek lingkungannya. Pengkajian kinerja lingkungan didasarkan pada kebijakan lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan. Kinerja lingkungan kuantitatif adalah hasil yang dapat diukur dari sistem manajemen lingkungan yang terkait kontrol aspek lingkungan fisiknya. Kinerja lingkungan kualitatif adalah hasil yang dapat diukur dari hal-hal yang terkait dengan ukuran aset non fisik, 8 seperti prosedur, proses inovasi, motivasi, dan semangat kerja yang dialami manusia pelaku kegiatan, dalam mewujudkan kebijakan lingkungan organisai, sasaran dan targetnya (Purwanto, 2000). Metode yang paling sering digunakan untuk mengukur kinerja keuangan adalah financial ratio, yang dianalisis dari laporan keuangan perusahaan. Analisis laporan laporan keuangan dapat dilakukan dengan menghitung berbagai macam rasio. Brigham dan Houston (2001) mengelompokkan rasio keuangan menjadi rasio likuiditas, rasio manajemen aktiva, rasio manajemen utang dan rasio profitabilitas. Kelebihan menggunakan financial ratio adalah kemudahan dalam perhitungannya selama data historis tersedia.
Sedangkan kelemahannya adalah metode tersebut tidak dapat mengukur kinerja perusahaan secara akurat. Hal ini disebabkan karena data yang digunakan adalah data akuntansi yang tidak terlepas dari penafsiran atau estimasi yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam distorsi sehingga kinerja keuangan perusahaan tidak terukur secara tepat dan akurat. Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam pengukuran kinerja keuangan berdasarkan data akuntansi, maka timbullah pemikiran pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai (value based). Berdasarkan pada resume dan penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti berusaha mengembangkan dari penelitian sebelumnya yaitu variable Independen penelitian ini adalah kinerja lingkungan yang diukur dari peringkat penilaian lingkungan (PROPER). Sedangkan variabel Dependen penelitian ini adalah kinerja keuangan perusahaan yang diukur dari rasio Profitabilitas (ROA). Dan 9 sampel penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang mengikuti PROPER yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2011 – 2014. Dari latar belakang di atas dan beberapa literatur penelitian terdahulu yang penulis dapat, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: ”PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG LISTING DI BEI TAHUN 2011-2014 ”.
1.2  Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang penelitian ini dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh secara parsial kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan?
 2. Apakah ada pengaruh secara simultan kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan?
 1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
 1. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
 2. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
1.4 Manfaat Penelitian
 1. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya manajemen lingkungan dan pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan.
2. Menambah referensi, informasi dan pengetahuan sehingga dapat menjadi perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
3. Sebagai wahana pengetahuan bagi pengemban ilmu pengetahuan khususnya manajemen lingkungan perusahaan.
1.5 Batasan Masalah

1. Penelitian ini dilakukan pada kinerja keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. 2. Periode yang digunakan 2011-2014.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2011-2014.Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment