Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, May 13, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Analisis kinerja keuangan menggunakan metode Economic Value Added (EVA) dan Financial Value Added (FVA) sebelum dan sesudah akuisisi: Studi pada PT. Bank Mandiri Tbk dan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia tahun 2012-2015


Abstract

INDONESIA:
Kinerja keuangan merupakan suatu gambaran atas kondisi keuangan dan perkembangan suatu perusahaan. Economic Value Added (EVA) dan Financial Value Added (FVA) adalah bagian dari konsep penilaian kinerja manajemen perusahaan dengan menghasilkan nilai tambah yang diciptakan perusahaan selama periode penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan sebelum dan sesudah akuisisi pada PT Bank Mandiri Tbk dan PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia menggunakan metode EVA dan FVA pada tahun 2012 hingga tahun 2015.
Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu menghitung adanya perbedaan nilai EVA dan FVA sebelum dan sesudah melakukan akuisisi kemudian melakukan analisis akan hasil perhitungan. Sedangkan jenis data menggunakan data sekunder dengan metode dokumentasi dalam pengambilan data. Serta alat analisis yang digunakan adalah uji normalitas dan uji beda Paired Sample Test.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan uji beda Paired Sample Test nilai EVA pada PT Bank Mandiri Tbk tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah akuisisi sedangkan pada PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kemudian nilai FVA pada PT Bank Mandiri Tbk dan PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah akuisisi. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa pada PT Bank Mandiri Tbk setelah akuisisi belum mampu menciptakan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan dan investor namun telah menunjukkan peningkatan nilai tambah finasial bagi perusahaan dan peningkatan kekayaan pemegang saham. Sedangkan pada PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia setelah akuisisi telah mampu meningkatkan nilai tambah ekonomis dan finansial bagi perusahaan dan penyandang dana.
ENGLISH:
Financial performance pictures the financial condition and the development of company. Economic Value Added (EVA) and Financial Value Added (FVA) is a part of concept of financial performance assessment. This research aims to knowing the financial performance before and after an acquisition on PT Bank Mandiri Tbk and PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia use EVA and FVA method started from 2012 until 2015.
This research uses quantitative descriptive approaches. It measures the differences of the result of EVA and FVA before and after the acquisition, then analyze the result of them. The data of this research is seconder, it is gotten from the documentation method. In this research, the tool of analysis is paired sample test.
Based on the result test of hypothesis which is used paired sample test, the result of EVA on PT Bank Mandiri Tbk is not give significant differences, it is different with PT Bank Mandiri Tbk which is give the significant differences. Then, the result of FVA of PT Bank Mandiri Tbk and PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia shows the significant differences with before and after acquisition. In short, although PT Bank Mandiri Tbk do the acquisition, he cannot have an economic value added for the company and the investor, but PT Bank Mandiri Tbk Financial Value Added for the company and stockholder. Meanwhile, PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia after do an acquisition , he an increase the economic value added and Financial Value Added for the company and stockholder.






BAB I
PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang
 Persaingan pada dunia usaha semakin lama semakin kompetitif, perusahaan harus dapat mempertahankan eksistensinya di dunia usaha. Untuk dapat bertahan suatu badan usaha baru harus mengambil tindakan, salah satunya adalah tindakan dalam memperluas badan usaha. Dengan semakin banyaknya usaha yang ada dan masuk dalam persaingan yang ada, mengharuskan perusahaan untuk memiliki strategi dalam mengahadapi persaingan tersebut agar mampu bertahan dalam pasar yang dimilikinya. Di mana perusahaan adalah bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha yang tetap dan terus menerus, yang didirikan, bekerja serta berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba (pasal 1 UU No. 3 tahun 1982). Banyak strategi yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan dalam mempertahankan eksistensinya yang semua bertujuan untuk meningkatkan kinerja suatu perusahan tersebut. Salah satu usaha untuk menjadi perusahaan yang besar dan kuat untuk menghadapi persaingan adalah melalui ekspansi (Astria, 2013:2). Merger dan akuisisi adalah salah satu metode untuk melakukan ekspansi usaha, dimana ekspansi tersebut merupakan salah satu bentuk dari restrukturisasi perusahaan, di samping bentuk-bentuk lainnya. Jadi jika pengusaha ingin mengembangkan dan meningkatkan kinerja perusahaan mereka salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu dengan metode merger dan akuisisi. 2 Merger adalah penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau penggabungan usaha pada suatu nama perusahaan dengan salah satu perusahaan. Akuisisi adalah suatu pengambil alihan kepemilikan dan control manajemen oleh satu perusahaan terhadap perusahaan yang lain. Akuisisi berbeda dengan merger karena akuisisi tidak menyebabkan pihak lain bubar sebagai entitas hukum. Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam akuisisi secara yuridis masih tetap berdiri dan beroperasi secara independen, tetapi telah terjadi pengalihan pengendalian oleh pihak manajemen. Kegiatan merger dan akuisisi di Indonesia sudah mulai berlangsung pada tahun 1970-an (Yudatmoko dan Naim, 2000:794- 818) yang perkembangannya terus berlangsung sampai sekarang. Kecenderungan yang terjadi di Indonesia, pola merger dan akuisisi lebih banyak dilakukan disebabkan karena pemilik perusahaan lebih nyaman dengan kepemilikan saham pribadi dalam jumlah besar. Perusahaan dapat memperluas usahanya dalam waktu yang relatif singkat dengan cara merger dan akuisisi tersebut, tidak perlu membesarkan suatu perusahaan dari awal sehingga menjadi perusahaan yang besar, tetapi cukup membeli perusahaan yang sudah besar atau sedang berjalan. Meskipun terkenal dan banyak diterapkan oleh perusahaan besar maupun kecil, banyak merger dan akuisisi yang tidak menghasilkan keuntungan finansial seperti yang diharapkan atau diinginkan oleh perusahaan pengakuisisi. Hal ini menjadi tidak sejalan dengan tujuan utama dari merger dan akuisisi yaitu untuk meningkatkan sinergi perusahaan, dimana sinergi tersebut terkait dengan penciptaan nilai. Karena menurut Fuady (1999:51) pada prinsipnya terdapat tiga motif yang mendorong 3 sebuah perusahaan melakukan merger dan akuisisi, yaitu motif ekonomi, motif non-ekonomi, dan diversifikasi. Akuisisi dipandang sebagai suatu strategi yang tentunya diharapkan dapat memberikan dampak atau pengaruh yang positif bagi perusahaan. Sehingga strategi ini akan dinilai sukses jika berdampak positif bagi perusahaan dengan adanya peningkatan. Keberhasilan atas keputusan akuisisi terdapat pada peningkatan nilai perusahaan karena motif suatu perusahaan dalam melakukan akuisisi berbeda-beda sesuai tujuan yang diinginkan. Tujuan dilakukannya akuisisi pada umumnya adalah untuk mendapatkan sinergi atau nilai tambah. Nilai tambah yang dimaksud lebih bersifat jangka panjang dibanding nilai tambah yang hanya bersifat sementara. Fokus dalam penelitian ini adalah adanya keputusan dalam melakukan strategi akuisisi tanpa menyebutkan strategi merger secara mendalam. Nilai perusahaan dapat berarti peningkatan pasar dan pemasaran, peningkatan teknologi, serta peningkatan keuangan atau finansial dan sebagainya yang menunjang perkembangan perusahaan yang melakukan akuisisi tersebut. Pengaruh atau dampak akibat suatu keputusan manajemen atas akuisisi menjadi suatu hal yang patut untuk diperhatikan. Salah satu indikator dalam menilai suatu keberhasilan keputusan manajemen akuisisi adalah dengan melihat kualitas peningkatan pada kinerja finansial. Dalam mencapai tujuannya, maka perusahaan harus memperhatikan kinerja finansial perusahaan, dimana kinerja keuangan perusahaan akan menggambarkan kondisi keuangan dan perkembangan perusahaan dalam mencapai tujuannya (Fabozzi, 2000: 775). Dari sisi finansial, 4 hal ini bermakna kemampuan dalam menghasilkan laba perusahaan hasil akuisisi yang lebih besar dari kemampuan laba masing-masing perusahaan sebelum akuisisi. Strategi persaingan dengan melakukan suatu akuisisi harus dipantau apakah startegi tersebut tepat dan mampu menunjang keberlanjutan perusahaan. Kualitas kinerja keuangan suatu perusahaan sebelum melakukan akuisisi dan setelah melakukan akusisi. Apabila kualitas kinerja finansial suatu perusahaan meningkat setelah melakukan akuisisi, maka perusahaan tersebut dinilai berhasil. Karena tidak jarang pula perusahaan mengalami penurunan setelah melakukan akuisisi dikarenakan tidak mampu mengelola sumberdaya setelah adanya kebijakan 2 perusahaan menjadi satu kesatuan. Sehingga diperlukan pengukuran keberhasilan pada suatu keputusan manajemen akuisisi sebagai pengaruh dari kebijakan tersebut. Kinerja merupakan indikator dari baik buruknya keputusan manajemen dalam pengambilan keputusan terutama dalam hal mengakuisisi perusahaannya. Manajemen dapat berinteraksi dengan lingkungan interen maupun eksteren melalui informasi. Informasi tersebut lebih lanjut dituangkan atau dirangkum dalam laporan keuangan perusahaan. Pengertian lain tentang kinerja Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan tingkat keberhasilan perusahaan dalam 5 menjalankan kegiatan operasionalnya., Bagi investor informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari altematif lain. Penilaian terhadap kualitas keberhasilan perusahaan terhadap strategi akuisisi menggunakan penilaian kinerja finansial perusahaan pada umumnya dengan analisis rasio keuangan. Namun menurut Brigham & Houston (2010: 161) analisis rasio keuangan memiliki keterbatasan yang membutuhkan perhatian dan pertimbangan yang lebih lanjut karena hal ini lebih bermanfaat bagi suatu perusahaan kecil yang memiliki fokus lebih sempit dibandingkan dengan perusahaan besar multidivisional. Dalam hal ini, analisis rasio keuangan belum cukup untuk mengetahui apakah telah terjadi nilai tambah bagi perusahaan yang melakukan strategi akuisisi. Melihat beberapa keterbatasan tersebut, banyak para ahli pada bidang manajemen keuangan mencoba untuk mencari suatu metode pengukuran kinerja keuangan dengan mampu memasukkan nilai tambah perusahaan didalamnya. Sehingga kemudian ditemukan suatu metode pengukuran kinerja financial dengan menggunakan pengukuran berdasarkan nilai (value based). Pengukuran tersebut dijadikan dasar bagi manajemen perusahaan dalam pengendalian modal, pembiayaan, serta dapat menjadi ukur dalam meningkatkan nilai perusahaan. EVA (Economic Value Added) adalah salah satu cara untuk menilai kinerja keuangan. EVA merupakan indikator tentang adanya penambahan nilai dari satu investasi. Menurut Rudianto (2006: 340), EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan yang 6 menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). Secara konseptual, metode EVA memberi manfaat yang lebih dibandingkan dengan pengukuran kinerja keuangan tradisional seperti Return on asset (ROA), Earning per share (EPS) dan rasio lainnya. EVA yang positif menunjukan bahwa manajemen perusahaan berhasil meningkatkan nilai perusahaan bagi pemilik perusahaan sesuai dengan tujuan manajemen keuangan memaksimumkan nilai perusahaan. Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat perusahan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan. Penggunaan EVA dapat dijadikan acuan mengingat EVA memberikan informasi dalam hal biaya modal sebagai kompensasi atas dana yang digunakan untuk membiayai investasi tersebut. Agar penilaian keberhasilan akan strategi akuisisi yang telah dilakukan oleh perusahaan lebih lengkap, maka peneliti menambahkan satu lagi metode analisis untuk mengukur kinerja perusahaan yakni dengan pendekatan FVA (Financial Value Added) yang merupakan metode baru dalam mengukur kinerja dan nilai tambah perusahaan. 
Metode ini mempertimbangkan kontribusi dari fixed asset dalam menghasilkan keuntungan bersih perusahaan (Iramani, 2005: 7). FVA mampu memisahkan keputusan operasi dan keputusan investasi. Sehingga FVA dapat menjelaskan penciptaan nilai dan membuat hal ini tepat untuk menentukan faktor yang bertanggungjawab atas penambahan atau pengurangan nilai (Rodriguez, 2002:9). FVA yang bernilai positif terjadi ketika keuntungan bersih perusahaan dan penyusutan dapat mencover equivalent depreciation. Apabila hal 7 tersebut dapat tercapai, maka perusahaan dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham karena NPV bernilai positif, sehingga hal tersebut mampu meningkatkan nilai perusahaan. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengambil salah satu akuisisi perusahaan yang dikabarkan menjadi salah satu akuisisi terbesar sektor keuangan yakni PT. Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mengakuisisi PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia. Bank Mandiri menjadi salah satu lembaga keuangan dengan aset terbesar yang dimiliki. Hal ini membuktikan bahwa Bank Mandiri telah mampu mengembangkan sektor usahanya dengan begitu baik dibandingkan para pesaingnya di sektor keuangan. Berikut grafik yang menunjukkan total asset lembaga keuangan di Indonesia: Grafik 1.1 Aset Lembaga Keuangan (dalam triliun) Tahun 2013-2014 Sumber: data diolah peneliti Bank Mandiri memiliki asset terbesar pada tahun 2014 diantara lembaga keuangan lain di Indonesia yakni dengan asset mencapai Rp 855 triliun yang naik 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 2013 2014 8 dibanding periode sama tahun 2013 yang mencapai Rp 733,1 triliun. Kemudian disusul oleh Bank BRI dengan total aset konsolidasi bank termasuk anak usahanya mencapai Rp 778,2 triliun. Serta peringkat ketiga diduduki oleh Bank Central Asia (BCA) yang membukukan aset senilai Rp 541,984 triliun. Bank Mandiri Tbk sebagai bank terbesar di Indonesia dalam hal aset pada akhir tahun 2013 mendapatkan tantangan baru yakni secara aset bank tersebut akan dilampaui oleh salah satu pesaingnya yakni Bank Rakyat Indonesia Tbk. Untuk itu Bank Mandiri perlu melakukan langkah-langkah strategis untuk tetap mempertahankan predikat sebagai bank terbesar. Salah satu langkah yang dilakukan ialah penjajahan untuk akuisisi. Langkah akuisisi pada PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia akan menjadi suatu langkah strategis Bank Mandiri dalam mengembangkan perusahaannya. Bank Mandiri ingin menciptakan nilai, sedangkan nilai dari aset tergantung dari risiko sistematisnya, dan risiko sistematis tidak langsung dipengaruhi oleh diversifikasi oleh karena itu pemegang saham bisa mendapatkan semua diversifikasi yang mereka inginkan dengan membeli saham dalam perusahaan yang berbeda, agar tetap menjadi bank terbesar di Indonesia. PT Bank Mandiri Tbk melebarkan sayapnya kepada layanan asuransi masyarakat yang dewasa ini akan terus mengalami peningkatan, karena akan semakin banyak PNS, pegawai swasta, pekerja dan masyarakat yang membutuhkan jasa layanan asuransi sebagai benteng keselamatan jiwanya. Sehingga hal ini menjadi suatu kesempatan bagus bagi PT Bank Mandiri Tbk untuk mengembangkan perusahaan anaknya. Perbankan berkolaborasi dengan 9 asuransi yang merupakan sektor keuangan non bank akan menjadi suatu kesempatan besar untuk peningkatkan pada sektor keuangan yang juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Negara. Diberlakukannya program Jaminan Kesehatan Nasional oleh Pemerintah pada tahun 2014 telah mengubah tatanan industri asuransi di Indonesia. Tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang akhirnya memercayakan perlindungan kesehatan pegawai mereka kepada program pemerintah tersebut. Meski begitu, dari segi bisnis Mandiri Inhealth tidak merasa terancam dengan kebijakan tersebut. Sebagai perusahaan asuransi pertama yang telah mengimplemantasikan skema Coordination of Benefit (COB) melalui produk Inhealth Managed Care, kami justru dapat menjadi mitra andalan bagi perusahaan yang ingin memberikan perlindungan kesehatan terbaik untuk pegawainya. Hal ini juga didukung oleh riwayat bahwa PT Asuransi Jiwa In Health Indonesia merupakan anak perusahaan PT Askes sehingga terdapat sinergi yang menguntungkan dengan penguasaan 40% pasar asuransi di Indonesia (www.inhealth.co.id). 
PT. Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengakuisisi total 80% saham PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia yang merupakan anak perusahaan milik PT Askes (Persero) dalam meyediakan jasa layanan asuransi kepada masyarakat. Akuisisi yang dilakukan oleh PT Bank Mandiri Tbk kepada PT Asuransi Jiwa In Health Indonesia bernilai 1,7 Triliun. Akuisisi dilaksanakan pada 2 tahap yakni tahap pertama terlaksana pada tanggal 23 desember 2013 dengan susunan Bank Mandiri memiliki 60% saham Inhealth. Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% saham, sementara PT Askes akan memiliki 20% saham di InHealth. 10 Kemudian untuk tahap kedua dilaksanakan pada setelah masa transisi Askes menjadi BPJS kesehatan selesei sehingga PT Askes akan bersedia memberikan 20% sahamnya kepada Bank Mandiri. Tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2014 dengan susunan Bank Mandiri memiliki 80% saham Inhealth. Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% saham (Bisnis.com 27/2/2014). Penelitian mengenai pengaruh akuisisi terhadap kinerja keuangan di Indonesia diantaranya yang dilakukan oleh Lesmana (2012) tentang Perbedaan Kinerja Keuangan dan Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Akuisisi di BEI. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja keuangan perusahaan sesudah akuisisi dibanding dengan sebelum akuisisi pada perusahaan pengakuisisi dan diakuisisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan pengakuisisi dan abnormal return dinyatakan tidak ada peningkatan yang signifikan, namun kinerja keuangan dan abnormal return sesudah akuisisi lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja keuangan sebelum akuisisi. Kinerja keuangan dan abnormal return pada perusahaan diakuisisi dinyatakan dengan tidak ada peningkatan yang signifikan, namun kinerja keuangan dan abnormal return sesudah akuisisi lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja keuangan sebelum akuisisi. Aisah (2010) berjudul Perbedaan kinerja keuangan dan harga saham perusahaan yang listing di BEI sebelum dan sesudah akuisis pada tahun 2003- 2005. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan kinerja keuangan (current ratio, debt to equity ratio, dan return on investment) dan harga saham perusahaan 11 yang listing di BEI sebelum dan sesudah melakukan akuisisi pada tahun 2003- 2005. Dari hasil penelitian terbukti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan baik sebelum akuisisi maupun sesudah akuisisi sehingga nilai tambah yang diinginkan perusahaan belum tercapai. Demikian juga dengan harga saham yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara harga saham sebelum akuisisi dengan harga saham sesudah akuisisi. Kemudian penelitian oleh Nafili (2008) tentang Analisis strategi marger dan akuisisi yang dilakukan Schlumberger melalui pendekatan value-based management. Penelitian ini menganalisis strategi merger dan akuisisi pada salah satu perusahaan dalam industri jasa perminyakan dan gas (oil field sevices and gas) telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penilaian atas keberhasilan strategi merger dan akuisisi yang dilakukan Schlumberger melalui pendekatan VBM yakni analisis rasio keuangan, return to shareholder dan economic value added (EVA) dan market value added (MVA) pada sebelum dan sesudah strategi dilakukan. Hasil yang diperoleh adalah adanya kecenderungan peningkatan kinerja berdasarkan rasio keuangan terutama pada rasio profitabilitas, solvabilitas dan aktivitas, peningkatan nilai EVA perusahaan, dan nilai MVA yang positif setelah diterapkannya strategi ini. Dengan demikian perusahaan berhasil meningkatkan nilai perusahaan dan memaksimalkan kesejahteraan bagi pemegang saham melalui implementasi strategi merger dan akuisisi. Berdasarkan latar belakang diatas serta beberapa penelitian yang telah ada, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian menyangkut pada kebijakan 12 manajemen pada akuisisi namun kemudian menganalisis keberhasilan terhadap kebijakan tersebut dengan menggunakan beberapa analisis kinerja perusahaan yang terfokus pada kinerja financial yang mampu menggambarkan keberhasilan perusahaan untuk mencapai tujuan perkembangan perusahaan. Metode analisis kinerja financial yang digunakan adalah metode EVA (Economic Value Added) dan FVA (Financial Value Added). Penelitian ini dituliskan dalam skripsi yang berjudul “Analisis Kinerja Keuangan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dan Financial Value Added (FVA) Sebelum dan Sesudah Akuisisi (Studi Pada PT. Bank Mandiri Tbk dan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia Periode 2012-2015)”. 
1.1 Rumusan Masalah 
Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan yang timbul pada keberhasilan dengan adanya keputusan akuisisi yang dilakukan oleh PT. Bank Mandiri Tbk pada PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia. Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 
1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk. dan PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia Tahun 2012- 2015 menggunakan metode EVA (Economic Value Added) sebelum dan setelah akuisisi ? 2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk. dan PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia Tahun 2012- 2015 menggunakan metode FVA (Financial Value Added) sebelum dan setelah akuisisi ? 1.2 Tujuan Penelitian 
 Untuk mengetahui kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk. dan PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia Tahun 2012-2015 menggunakan metode EVA (Economic Value Added) sebelum dan setelah akuisisi.
 2 Untuk mengetahui kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk. dan PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia Tahun 2012-2015 menggunakan FVA (Financial Value Added) sebelum dan setelah akuisisi.
 1.4 Manfaat Penelitian
 Penelitian ini dapat membantu perusahaan dan para investor sebagai suatu alat bantu pengendalian bagi kinerja manajemen dan dapat dimanfaatkan oleh pihak intern untuk menyusun target, budget, koordinasi, evaluasi hasil pelaksanaan operasi perusahaan dan dasar pengambilan keputusan. 
1. Bagi Akademis Memberi kontribusi sebagai sarana pemikiran dalam rangka memperkaya pengetahuan dibidang akuntansi dan manajmene keuangan.
 2. Bagi para peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat penelitian sebelumnya dan memotivasi penelitian-penelitian selanjutnya terutama mengenai pengukuran kinerja dengan metode EVA dan FVA 3. Bagi Perusahaan dan pemegang saham Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi pihak manajemen dan para investor sebagai dasar pertimbangan terkait masalah  keuntungan perusahaan yang dapat memberitahukan pengembalian ekuitas saham dan nilai tambah ekonomi. 
1.5 Batasan Penelitian
 Penelitian yang dilakukan terfokus kepada PT. Bank Mandiri Tbk. (BMRI) yang melakukan akuisisi terhadap PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia. Adapun metode atau analisis yang digunakan adalah dengan metode EVA (Economic Value Added) dan FVA (Financial Value Added) tanpa melihat pada banyak metode lainnya. Kemudian data yang digunakan mencakup laporan keuangan pada periode 2012-201


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen : Analisis kinerja keuangan menggunakan metode Economic Value Added (EVA) dan Financial Value Added (FVA) sebelum dan sesudah akuisisi: Studi pada PT. Bank Mandiri Tbk dan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia tahun 2012-2015Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment