Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, May 9, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Analisis faktor-faktor eksternal pembentuk gaya hidup pada usia dewasa di Kota Malang




Abstract

INDONESIA:

Perubahan gaya hidup masyarakat dari tahun ketahun mengalami perubahan yang sangat signifikan. Para pembisnis harus bisa mempelajari gaya hidup masyarakat pada satu daerah tertentu. Gaya hidup merupakan pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Gaya hidup disetiap masyarakat memiliki perbedaan dan mempunyai keunikan masing-masing. Dengan demikian para pembisnis harus mempelajari faktor-faktor eksternal pembentuk gaya hidup pada usia dewasa khususnya di kota Malang, tempat penelitian ini dilakukan. Faktor eksternal pembentuk gaya hidup meliputi kelas sosial, kelompok referensi, keluarga dan sub budaya. Faktor-faktor tersebut akan diteliti lebih dalam lagi bagi para pembisnis untuk mengetahui pola gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor eksternal pembentuk gaya hidup. Lokasi penelitian di kota Malang dan alat analisis yang digunakan adalah analisis faktor. Variabel yang digunakan adalah faktor-faktor eksternal pembentuk gaya hidup yang meliputi: kelas sosial, kelompok referensi, keluarga dan sub budaya. Metode penarikan sampel menggunakan Sampling Aksidental yang didapat 100 responden yaitu usia dewasa di kota Malang.

Hasil analisis faktor pada penelitian ini menunjukkan bahwa, dari 20 item telah direduksi menjadi 6 faktor yang dominan yaitu: (a) Faktor 1 meliputi gaji bulanan, keluarga, suami/istri mengikat dan suami/istri mengatur. (b) Faktor 2 meliputi nilai budaya, norma budaya, suami/istri mengatur dan kepercayaan. (c) Faktor 3 meliputi teman terdekat, bintang selibriti dan pemimpin politik. (d) Faktor 4 meliputi pekerjaan mempengaruhi, berpakaian menarik, kerabat terdekat, dan saudara kandung. (e) Faktor 5 meliputi pekerjaan yang didapat, mempertimbangkan anak kandung dan memaksa anak kandung. (f) Faktor 6 meliputi pendidikan dan olahragawan.

ENGLISH:

A change of people’s lifestyles change from year to year is very significant development. The businessman should be able to study the lifestyles of people in a particular area. Lifestyle is a pattern of action that differentiates one person to another. Lifestyle of each community is distinct and has a unique individual. Thus the businessman must learn to external factors forming the lifestyle in adulthood, especially in the city of Malang, where the study was conducted. External factors forming the lifestyle include social class, reference groups, families and sub-culture. These factors will be examined a bit closer to the businessman to know the lifestyle patterns in adulthood in the city of Malang.

The purpose of this study was to determine the external factors forming the lifestyle. The research location was in the city of Malang and analysis tool used a factor analysis. The variables used external factors forming the lifestyle that included: social class, reference groups, families and sub-culture. Sampling method used accidental sampling obtained 100 respondents, adulthood in the city of Malang.

The results of the factor analysis in this study showed that, of the 20 items had been reduced to 6 dominant factors, namely: (a) First Factor included the monthly salary, the family, the husband / wife in binding and husband / wife in setting. (b) The second factor included the cultural values, cultural norms, husband / wife in organizing and trust. (c) The third factor included the closest friend, the star of celebrities and political leaders. (d) Forth Factors included the work, dressed attractive, closest relatives, and siblings. (e) Fifth Factor included the work to come, considering the biological children and forcing biological children. (f) Sixth Factor included education and sportsmen.




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Perubahan merupakan suatu yang konstan dan tidak dapat dihindari. Setiap negara bahkan suatu kota tidak akan terlepas dari perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan serta perkembangan terjadi di segala aspek dan bidang, termasuk perubahan sikap dan perilaku dari individu. Setiap individu memiliki kriteria dan kondisi yang berbeda satu sama lain sehingga menyebabkan kompleksnya perilaku individu. Dalam konsep pemasaran, konsumen merupakan individu yang sangat kompleks, yang tunduk kepada berbagai macam kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial. Untuk itu, sangat penting bagi para pemasar untuk mempelajari konsumen dan memahami perilaku konsumen sebagai strategi untuk mencapai kesuksesan. Hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April lalu di enam kota besar (Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar) juga menunjukkan kisaran jumlah yang sama. Kelas menengah berjumlah 50,3 persen dan kelas menengah atas 3,6 persen, sisanya merupakan kelas atas (1 persen), bawah (39,6 persen), dan sangat bawah atau kelas yang betul-betul miskin (5,6 persen). Kelas menengah Indonesia merupakan yang terbesar dan tercepat mengalami pertumbuhan. Hal ini berdampak terhadap tren konsumsi dalam negeri meningkat, karena kelas menengah cenderung mempunyai daya beli yang tinggi dan cenderung konsumtif. Jika melihat kondisi diatas sangat masuk akal, dan itu adalah fakta. Hal ini sejalan dengan survei dilakukan Kompas, dimana kelas 2 menengah Indonesia cenderung konsumtif dan gigih mengejar gaya hidup. Survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April memperlihatkan, semakin tinggi kelas sosial, semakin banyak mereka mengoleksi semua ornamen dan aktivitas gaya hidup. Di satu sisi, masyarakat berlomba menaikkan citra kelasnya dengan berusaha mengadopsi gaya hidup konsumerisme (www.kompas.com).
Gaya hidup merupakan pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Solomon (2002: 142) mengemukakan, gaya hidup mencerminkan pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang bagaimana ia menggunakan waktu dan uangnya. Seseorang yang berasal dari subbudaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama, sangat mungkin memiliki gaya hidup yang berbeda. Dari gaya hidup itulah, dapat menggambarkan keseluruhan tindakan seseorang dengan lingkungannya. Weber mengemukakan bahwa persamaan status dinyatakan melalui persamaan gaya hidup. Dibidang pergaulan gaya hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Kelompok status di beda-bedakan atas dasar gaya hidup yang tercermin dalam gaya konsumsi (dalam Sunarto Kamanto, 2000 : 67). Penelitian Dewi Nofita Sari (2015) dengan judul Perbedaan Gaya Hidup Mahasiswa Ditijau dari Status Ekonomi dan Jenis Kelamin (Studi kasus pada 3 Mahasiswa Jurusan Manajemen Ekstensi Fakultas ekonomi Universitas Mulawarman) bahwa tidak terdapat perbedaan gaya hidup mahasiswa ditinjau dari status ekonomi pada mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman. Karena pada umumnya mahasiswa yang sudah memiliki kelompok referensi akan berusaha melakukan pemenuhan kebutuhan gaya hidupnya sehingga tidak nampak lagi perbedaan tersebut. Tidak terdapat perbedaan gaya hidup mahasiswa ditinjau dari jenis kelamin pada mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan yang merupakan mahluk sosial memiliki kebutuhan untuk terus menampilkan citra diri mereka di lingkuan sosialnya dan gaya hidup adalah salah satu perwujudan dari citra diri tersebut. Dimensi gaya hidup akan diteliti bisa menjadi pembentukan gaya hidup pada penelitian ini, hal tersebut dilihat dari pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Dimensi tersebut berupa kelas sosial, kelompok referensi, keluarga dansub budaya. Hal demikian tidak terlepas dari beberapa faktor ekternal maupun internal pada pembentukan gaya hidup konsumen yang ciri-ciri masyarakat modern yang dikemukakan oleh Philip Kotler (1997: 144), mengemukakan bahwa faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi sedangkan faktor ekstenal yakni kelompok referensi, keluarga, kelas sosial dan kebudayaan. Alasan, dari pengambilan dimensi pada faktor eksternal gaya hidup dengan dimensi kelas sosial, kelompok referensi, keluarga dan sub budaya 4 dikarenakan objek pada penelitian ini usia dewasa di kota Malang. Usia dewasa yang ada di kota Malang mempunyai kelas sosial atau pekerjaan yang berbedabeda, berasal dari budaya berbeda dan berbeda juga menyikapi aktivitas-aktivitas gaya hidup yang akan dijalani. Terkait dimensi yang akan diteliti, hasil penelitian terdahulu yang diteliti oleh TriMuji Ingarianti dan Misbahun Nadzir (2015) mengungkapkan bahwa hasil penelitian dari 350 remaja akhir dengan rentang usia 17-21 di Malang yang menjadi sampel penelitian dapat disimpulkan bahwa empat hipotesis diterima karena adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara setiap dimensi dengan gaya hidup hedonis pada remaja di Malang. Nilai kontribusi korelasi terbesar ada pada dimensi uang sebagai sumber kekuasaan status yaitu sebesar 19,9% dan sisanya 80,1% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti oleh peneliti namun dapat ditemukan oleh peneliti diantaranya adalah sikap, pengamatan dan pengalaman, kepribadian, konsep diri, motif, kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan. Dimensi-dimensi yang akan diteliti terkait pada kelas sosial, kelompok referensi, keluarga dan sub budaya, ternyata berbanding terbalik terhadap data empirik (hasil penelitian terdahulu) yang tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Philip Kotler yang membahas tentang faktor eksternal dan internal pembentuk gaya hidup.
 Pada data empirik (hasil penelitian terdahulu) memakai responden 17-21 tahun atau mahasiswa, tetapi peneliti melihat responden yang lebih bervariasi dan tidak melakukan batasan umur 17-21 tahun 5 seperti data empirik diatas. Peneliti menggunakan parameter yang berbeda dari kelas sosial yang berhubungan dengan tingkat pendapatan. Hal tersebut dikarenakan sulit di Indonesia dengan usia 17-21 tahun memiliki pendapatan yang layak dan tak bisa menjadi tolak ukur. Peneliti akan menguji kembali konsep teori dengan responden dewasa atau telah memiliki pekerjaan tetap dengan usia 20-40 tahun, dengan alasan menggunakan rata-rata usia dewasa, apakah sesuai teori yang dikemukakan atau sebaliknya. Dariyo (2003: 105) mengatakan bahwa secara umum mereka yang tergolong dewasa muda (young adulthood) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung jawabnya tentu semakin bertambah besar. Ia tak lagi harus bergantung secara ekonomis, sosiologis maupun psikologis pada orangtuanya. Masa dewasa awal menurut Hurlock (2011: 226) adalah masa pencarian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perbuhan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umur antara 21 sampai 40 tahun. Dengan demikian, penelitian ini layak diteliti dengan kesenjangankesenjangan yang mana pada teori utama dengan teori empirik (hasil penelitian terdahulu) bertolak belakang satu sama lain. Responden yang akan diteliti juga berbeda dengan responden yang telah diteliti sebelumnya. Oleh karena itu, 6 peneliti memberi judul penelitian ini yaitu “Analisis Faktor-faktor Eksternal Pembentuk Gaya Hidup pada Usia Dewasa di Kota Malang”.
1.2 Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apa saja faktor-faktor eksternal yang berpeluang membentuk gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang?
2. Apa faktor eksternal dominan yang berpeluang membentuk gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang?
 1.3 Tujuan Penelitian
 Berdasarkan dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian dapat ditetapkan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui faktor-faktor eksternal yang berpeluang membentuk gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang?
2. Untuk mengetahui faktor eksternal dominan yang berpeluang membentuk gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang?
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan wawasan penulis tentang manajemen pemasaran, khususnya tentang bagaimana 7 perilaku konsumen dalam menggunakan waktu dan uangnya atau disebut juga dengan gaya hidup pada usia dewasa di kota Malang.
 2. Bagi Fakultas Ekonomi, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam upaya untuk memperluas pengetahuan di bidang manajemen pemasaran khususnya tentang perilaku konsumen.
3. Bagi pihak-pihak yang berkepentingan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penelitian lanjutan sebagai upaya untuk memperluas dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang perekonomian khususnya mengenai kegiatan pemasaran. Penelitian ini juga mempunyai manfaatmanfaat untuk penelitian selanjutnya.
 1.5 Batasan Penelitian
Agar dalam pembahasan karya ilmiah ini sesuai dengan sasaran yang diinginkan, maka peneliti memberi batasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini tidak bisa mendata seluruh usia dewasa yang ada dikota Malang

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Analisis faktor-faktor eksternal pembentuk gaya hidup pada usia dewasa di Kota MalangUntuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment