Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Thursday, May 10, 2012

Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca


Berkaitan dengan pelaksanaan pengajaran membaca, Burns (1982) mengemukakan 14  prinsip pengajaran membaca. Prinsinsi-prinsip yang dikemukakan didasarkan pada generalisasi  hasil penelitian tentang pengajaran membaca dan pada hasil observasi praktik membaca. Prinsipprinsip  ini diharapkan dapat mengarahkan guru dalam merencanakan pengajaran membaca.  Berikut dipaparkan keempat belas prinsip tersebut. 
Prinsip 1 Membaca adalah tindakan kompleks dengan banyak faktor yang harus  dipertimbangkan 
Guru harus memahami semua aspek yang berkaitan dengan proses membaca sehingga dia  dapat merencanakan pengajaran membaca secara bijaksana. Adapun aspek-aspek yang berkaitan  dengan proses membaca adalah sebagai berikut. 
1. Memahami sebuah simbol tertentu (aspek sensori) 
2. Menerjemahkan apa yang mereka lihat dari simbol-simbol atau kata-kata (aspek  persepsi) 
3. Mengikuti alur (linear), logika, dan pola tata bahasa dari kata yang ditulis (aspek  sekuensi) 
4. Menghubungkan kata-kata sebelumnya yang disesuaikan dengan pengalaman  langsung untuk memberi makna terhadap kata yang dibaca (aspek pengalaman) 
5. Membuat kesimpulan dan evaluasi sebuah material (aspek berpikir) 
6. Mengingat apa yang telah mereka pelajari di waktu lampau dan menghubungkan ide  baru dan fakta (aspek pembelajaran) 
7. Memahami hubungan antara simbol dan bunyi, antara kata dengan apa yang mereka  maksudkan (aspek asosiasional) 
8. Berhubungan dengan ketertarikan personal atau individu dan sikap yang  memengaruhi tugas membaca (aspek afektif) 
Melihat semua aspek di atas, jelas bahwa proses membaca merupakan proses yang sangat  kompleks. Dengan demikian, dalam membaca siswa harus menguasai aspek-aspek di atas.   
Prinsip 2 Membaca merupakan proses interpretasi terhadap makna dari simbol-simbol yang tertulis
Jika seseorang tidak memahami sebagian makna dari teks, maka ia belum membaca,  bahkan jika seseorang itu melafalkan setiap kata dengan tepat. 

Prinsip 3 Membaca melibatkan kegiatan mengkonstruksi makna dari passage makna dari  bagian yang tertulis 
Di samping untuk memahami informasi dari huruf-huruf dan kata-kata dalam teks,  membaca melibatkan kegiatan memilih dan menggunakan pengetahuan tentang orang, tempat,  sesuatu, dan pengetahuan tentang teks dan organisasi teks.  Sebuah teks tidak banyak mengandung makna seperti sumber dari informasi yang  memungkinkan pembaca untuk melibatkan pengetahuan yang telah dimilikinya sehingga dapat  menentukan makna yang terkandung di dalam teks (Anderson dalam Burns, 1992:23). 
Pembaca mengkonstruksi makna dari bagian teks yang mereka baca dengan  menggunakan dua informasi yang berkaitan dengan teks dan pengetahuan awal mereka, yang  didasarkan pada pengalaman masa lalu mereka. Cara pembaca dalam mengkonstruksi makna  berbeda-beda bergantung pada latar belakang pengetahuan dan pengalaman mereka yang  bervariasi. Beberapa pembaca tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup untuk  memahami teks, dan yang lainnya merasa gagal untuk memanfaatkan pengetahuan yang telah  mereka miliki. 
Prinsip 4 Tidak ada satu cara yang paling tepat untuk mengajarkan membaca 
Beberapa metode pengajaran membaca lebih cocok bagi beberapa siswa dari pada siswa  lainnya. Sebagian siswa merupakan individu yang belajar dengan cara mereka sendiri. Beberapa  siswa merupakan pebelajar yang visual, beberapa lainnya merupakan pebelajar auditor dan yang  lainnya merupakan pembelajar yang kinestetik. 
Guru harus membedakan pengajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Tentu saja, beberapa  metode akan tepat bagi beberapa guru. Guru memerlukan pemahaman mengenai variasi metode  sehingga mereka dapat menolong semua muridnya.   
Prinsip 5 Belajar membaca merupakan proses yang berkelanjutan 
Anak-anak belajar membaca dalam beberapa periode waktu yang panjang, memperoleh  kemampuan membaca lanjutan setelah mereka menguasai keterampilan prasyarat. Bahkan  setelah mereka menguasai semua jenis membaca, latihan membaca masih harus terus berlanjut.  Dengan tidak memandang seberapa tua usia atau seberapa lama mereka telah meninggalkan  bangku sekolah, mereka tetap melanjutkan meningkatkan kemampuan membacanya.  Keterampilan membaca membutuhkan latihan yang terus-menerus. Jika seseorang tidak  berlatih, maka kemampuan membacanya tidak berkembang. Oleh karena itu, latihan membaca  perlu dikembangkan secara terus-menerus. 
Prinsip 6 Siswa harus diajari pengenalan kata yang memungkinkan mereka dapat  mengenali pelafalan dan makna kata-kata sulit secara independen 
Siswa tidak dapat mengingat semua kata yang mereka baca dalam teks. Oleh karena itu  mereka membutuhkan untuk mempelajari teknik-teknik untuk memahami kata-kata yang tidak  dikenal sehingga mereka dapat memahami isi bacaan meskipun tanpa bantuan guru, orang tau,  atau teman. 
Prinsip 7 Guru harus mendiagnosis kemampuan membaca siswa dan menggunakan hasil  diagnosisi tersebut sebagai dasar untuk merencanakan pengajaran 
Mengajari semua siswa dengan bahan ajar dan metode yang sama serta berharap dapat  menangani kesulitan siswa yang berbeda dalam waktu yang bersamaan adalah hal yang perlu  dihindari. Setiap siswa mempunyai kesulitan yang berbeda, sehingga penanganannya pun tidak  akan sama. Guru perlu mengecek kelemahan membaca siswa dan kelebihannya. Selanjutnya  dapat menentukan kelompok siswa yang melakukan bimbingan dan yang tidak 
Prinsip 8 Membaca dann keterampilan berbahasa lainnya sangat berkaitan 
Membaca – interaksi antara pembaca dan bahasa tulis saat dimana pembaca berusaha  untuk merekonstruksi pesan penulis – sangat berhubungan erat dengan keterampilan berbahasa  lainnya (menyimak, berbicara, dan menulis). Hubungan erat antara menulis dan membaca adalah  keduanya merupakan kemampuan berbahasa reseptif, yang bertolak belakang dengan dua   keterampilan membaca ekspresif yaitu berbicara dan menulis. Kemampuan menyimak yang baik  sangat penting dalam meningkatkan kemampuan membaca.  Hubungan antara membaca dan menulis sangat kuat, keduanya merupakan proses yang  konstruktif. Pembaca harus mengkonstruksi pesan dibalik teks yang tertulis, sementara itu  menulis merupakan kegiatan untuk menyampaikan ide dan mengekspresikan gagasan yang  disampaikan secara tertulis. Pesan yang disampaikan lewat tulisan, dikodekan oleh pembaca  melalui kegiatan membaca. Dengan demikian keempat keterampilan berbahasa tersebut saling  berkaitan. 
Prinsip 9 Membaca merupakan bagian integral dari semua area isi pengajaran dalam  program pendidikan. 
Guru harus mempertimbangkan hubungan antara membaca dengan mata pelajaran lain  dalam kurikulum sekolah dasar. Untuk memahami semua materi pelajaran dibutuhkan  keterampilan membaca. Bahan ajar yang dikembangkan dalam mata pelajaran lain menjadi area  isi dalam teks yang harus dibaca siswa. Dengan demikian, membaca menjadi bagian integral  dalam pembelajaran di sekolah dasar. 
Prinsip 10 Siswa perlu untuk mengetahui mengapa membaca itu penting 
Anak-anak yang tidak bisa melihat keuntungan yang akan diperoleh dalam belajar  membaca tidak akan termotivasi untuk belajar membaca. Belajar membaca memerlukan usaha,  dan siswa yang melihat nilai lebih membaca sebagai aktivitas personal akan lebih cenderung  bekerja keras dalam membaca dari pada siswa yang tidak melihat manfaat tersebut. Guru harus  menekankan kepada siswa tentang kebutuhan membaca di masa depan. 
Prinsip 11 Kesenangan membaca harus dianggap sebagai hal yang penting 
Membaca merupakan kegiatan yang bisa menghibur dan juga informatif. Guru harus  dapat membantu siswa menyadari fakta ini melalui kegiatan memberi contoh kegiatan membaca  yang dapat mereka amati. Guru dapat melakukan kegiatan membaca rekreatif seperti membaca  cerita atau puisi. Pemodelan seperti ini sangat penting bagi siswa. 
Prinsip 12 Kesiapan membaca harus dipertimbnagkan dalam semua level pembelajaran 
Kesiapan membaca siswa tidak hanya dilihat saat pengajaran membaca dimulai, tetapi  selama proses pengajaran membaca berlangsung dan pada semua jenjang kelas. Hal ini dapat  dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa.    
Prinsip 13 Membaca harus diajarkan melalui cara yang menngarahkan siswa untuk  mengalami kesuksesan    
Meminta siswa untuk belajar membaca dari bahan yang terlalu sulit bagi mereka  merupakan langkah menuju kegagalan yang sangat besar. Guru harus memberi pengajaran  kepada siswa sesuai dengan level masing-masing, sesuai dengan penempatan tingkatannya. Jika  siswa diberi tugas membaca yang mengarahkan mereka pada kesuksesan, mereka akan dengan  percaya diri melaksanakan tugas-tugas membaca yang mengarah pada kesuksesan. Guru harus  menyesuaikan tingkat keterbacaan teks dengan level atau jenjang kelas yang tepat.    
Prinsip 14 Pentingnya dorongan untuk mengarahkan dan memantau diri dalam proses  membaca    
Pembaca yang baik mengarahkan sendiri kegiatan membacanya, membuat keputusan  untuk menentukan pendekatan yang tepat untuk memahami isi teks, menetukan kecepatan  membacanya, dan menentukan tujuan membacanya. Mereka memiliki kemampuan untuk  memutuskan kapan mereka menemukan kesulitan untuk memahami isi teks dan dapat  mengambil langkah untuk meremisi kesulitan membacanya.  Pada saat mengajarkan membaca, dengan tidak mempermasalahkan pendapat apa yang  dipakai atau pola pengajarn yang dipakai, prinsip-prinsip di atas harus diaplikasikan.  Selain keempat belas prinsip yang dikemukakan Burns di atas, terdapat 17 prinsip  pengajaran membaca yang dikemukakan Heilman. Ketujuh belas prinsip tersebut disusun dan  dikembangkan berdasarkan pandangan-pandangan psikologi, psikologi pendidikan, dan  perencanaan kurikulum. Juga disusun berdasarkan hasil kajian pertumbuhan dan perkembangan  anak, serta psikologis klinisnya.Adapun ketujuh belas prinsip tesebut adalah sebagai berikut. 


Download Isi Lengkap  dari Makalah Ini :  
 



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment