Referensi Skripsi Terbaru | Download Skripsi Gratis

Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Thursday, May 10, 2012

Sejarah Semantik



            Aristoteles, sebagai pemikir Yunani yang hidup pada masa 384-322 SM, adalah  pemikir pertama yang menggunakan istilah “makna” lewat batasan pengertian kata yang  menurut Aristoleles adalah “satuan terkecil yang mengandung makna”. Dalam hal ini,  Aristoteles juga telah mengungkapkan bahwa makna kata itu dapat dibedakan antara  makna yang hadir dari kata itu sendir secara otonom, serta makna kata yang hadir akibat  terjadinya hubungan gramatikal.
            Bahkan Plato (429-347 SM) dalam Cratylus  menungkapkan bahwa bunyi-bunyi bahasa itu secara implisit mengandung makna-makna  tertentu. Hanya saja memang, pada masa itu batas antara etimologi, studi makna,  maupun studi makna kata, belum jelas.  Salah seorang ahli bahasa klasik yang bernama Reisig pada tahun 1825  mengungkapkan konsep baru tentang grammar (tata bahasa) yang meliputi tiga unsur  utama, yaitu etimologi, studi asal-usul kata yang berhubungan dengan perubahan bentuk  maupun makna; sintaksis, tata kalimat; dan semasiologi, ilmu tanda (makna). Istilah  semasiologi yang dikemukakan Reisig sebagai ilmu baru pada 1820-1925 belum disadari  sebagai semantik.

            Semantik baru dinyatakan sebagai ilmu makna pada tahun 1890-an  dengan munculnya Essai de Semantique karya Breal, yang kemudian disusul oleh karya  dari Stern pada tahun 1931. Sebelum karya Stern, di Jenewa telah lahir sebuah karya dari  Ferdinand de Saussure berjudul Cours de Linguisticque Generale yang merupakan  kumpulan bahan kuliah. Pandangan Saussure ini merupakan pandangan aliran  strukturalisme. Menurut pandangan ini, bahasa merupakan satu sistem yang terdiri atas  unsur-unsur yang saling berhubungan, merupakan satu kesatuan (the whole unified).  Selanjutnya, pandangan ini dijadikan titik tolak penelitian yang sangat kuat mempengaruhi  berbagai penelitian, terutama di Eropa (Djajasudarma, 1993). 
            Para ahli linguistik mencoba menjelaskan tiga hal yang berhubungan dengan  makna, yaitu:  
1. makna kata secara alamiah (makna inheren);
2. mendeskripsikan makna kalimat secara alamiah (makna kategori); dan
3. menjelaskan proses komunikasi.
            Dalam bahasa Indonesia, linguistik (bahasa Inggris linguistic) memiliki dua  pemahaman, sebagai terjemahan dari bahasa Inggris linguistics, yaitu (1) ilmu bahasa  dan (2) bahasa sebagai objek ilmu bahasa (linguistik). Jadi, objek linguistik sebagai ilmu  bahasa adalah linguistik (bahasa). Bila dilihat berdasarkan konsep kajian kebahasaan de  Saussure, sign ‘tanda’ terbagi menjadi signans sebagai komponen terkecil dari tanda, dan  signatum sebagai makna yang diacu oleh signans. Lain lagi dengan istilah yang  digunakan Kaum Stoik, sign ‘tanda’ dibagi menjadi signifiant dan signifie.   
Download Isi Lengkap  dari Makalah Ini :  
 



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment