Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Thursday, May 10, 2012

Aspek, Kala, Nomina Temporal, dan Modus


            Tuturan tertentu dalam suatu bahasa dapat mengandung kontur temporal  tentang keadaan, tindakan, dan sikap pembicara. Unsur-unsur gramatikal yang  menghubungkan kontur temporal dengan sikap pembicara merupakan kategori  dari Tense, Aspect, and Modality (Hooper, 1962). Bahasa Indonesia tidak  memiliki tense ‘kala’ (kategori gramatikal perubahan verba) sebagai salah satu  alat untuk menyatakan temporal deiktis secara gramatikal, bahasa Indonesia  menyatakan temporal deiksis secara leksikal, yaitu dengan nomina temporal  (Djajasudarma, 1993: 22).  Berikut akan dibahas mengenai kontur temporal dalam suatu ujaran, yang  terdiri dari aspek, kala, nomina temporal, dan modus. 
1.      Aspek 
            Aspek adalah cara memandang struktur temporal intern suatu situasi (Comrie,  1976: 3). Situasi dapat berupa state ‘keadaan’, event ‘peristiwa’, dan process  ‘proses’. Keadaan sifatnya statis, sedangkan peristiwa dan proses bersifat dinamis.  Aspek dalam bahasa Latin aspectus ‘pandangan’ atau ‘cara  memperlakukan sesuatu’. Gagasan aspek diterima para ahli bahasa secara  konvensional untuk menyebutkan unsur yang ada di dalam bahasa Rusia (Lyons,  1977 dalam Djajasudarma, 1993:24).

            Selanjutnya, pengertian atau istilah aspek  kurang dikenal bila dibandingkan dengan tense ‘kala’. Penelitian terhadap aspek  atau kala telah menarik perhatian para ahli bahasa, terutama bagi bahasa-bahasa  yang memiliki aspek, kala (perubahan kategori gramatikal verba). Penelitian  aspek dapat dilakukan dari makna secara semantis menuju bentuk sintaksis atau  sebaliknya.  Aspek dapat dibedakan dari keaspekan, unsur semantik yang dinyatakan  melalui aspek pada struktur permukaan mulai menjadi perhatian para ahli bahasa  pada awal tahun 1970-an, sejak tulisan Anderson (1973), kemudian muncul  tulisan dari Frieddrich (1974), lalu Comrie (1976). Aspek diduga lebih banyak  terdapat pada bahasa-bahasa di dunia bila dibandingkan dengan kala. Oleh karena  itu, dapat dikatakan bahwa aspek merupakan gejala bahasa yang universal (dalam  Djajasudarma, 1986). 
            Studi aspektologi yang paling menarik di dalam penelitian yang dilakukan  Djajasudarma (1986) ialah dengan adanya dua tradisi, yaitu (1) tradisi Slavia dan  (2) tradisi Aristoteles. Aspektologi berdasarkan posisi Timur dan Barat.  Aspektologi berdasarkan Timur dan Barat dapat dilihat pada bagan aspektologi  berikut. 
 Download Isi Lengkap  dari Makalah Ini :  
 


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment