Referensi Skripsi Terbaru | Download Skripsi Gratis

Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Friday, May 11, 2012

Membaca Sebuah perspektif wacana


Pada kegitan belajar II ini akan dibahas hal-hal sebagai berikut :
a. Pendekatan bottom-up dan top-down dalam membaca
b. Teori skema dan pengaruhnya pada teori dan praktek membaca
c. Pengaruh latar belakang pengetahuan terhadap proses membaca
d. Membaca sebagai proses sosial
e. Karakteristik pelajaran membaca yang efektif


2. Pandangan bottom-up dan top-down dalam membaca
            Bottom-up dalam membaca pada dasarnya adalah menguraikan simbol tertulis ke dalam bahasa lisan, dengan arus bagan seperti ini: Cetakan – perbedaan setiap kata – fonem dan grafem dicocokkan – memadukan – ucapan – arti. Pembentukan arti merupakan proses akhir bahasa itu diterjemahkan ke dalam simbol yang lain (tulisan – lisan). Pendekatan ini tetap bertahan karena penjelasannya yang logis bahwa untuk memahami bacaan harus mengenali huruf. Pendekatan ini ditentang oleh ahli lain terutama bangsa Inggris dengan alasan bahwa : dalam ucapan tidak selalu sama dengan tulisan, proses merangkaikan setiap huruf akan memperlambat proses membaca sehingga dapat mengganggu pemahaman.
            Karena adanya kelemahan dalam pendekatan ini maka diusulkan pendekatan lain yang disebut top-down atau pendekatan psikolinguistik. Cambourne memberikan skema top-down sebagai berikut: Pengalaman masa lalu – aspek cetakan yang selektif makna – suara/pelafalan. Pendekatan ini lebih menekankan pada rekonstruksi dari pada menguraikan bentuk. Kunci proses ini adalah adanya interaksi antara pembaca (adanya pengalaman masa lalu) dengan teks, faktor psikologis dan linguistik juga perlu dipertimbangkan. Pendekatan ini ada kelemahannya : tidak memikirkan pembaca pemula dan pembaca lanjut. Karena kelemahan ini maka Stanovich mengusulkan untuk memadkukan pendekatan bttom-up dan top-down yang disebut ‘interactive-compensatory’

3. Teori Skema dan Membaca
            Pertama kali teori ini diusulkan oleh Barlett, dengan pandangan bahwa pengetahuan di kepala mengorganisir dan menghubungkan dan mengarahkan kearah proses pemahaman terhadap pengalaman baru yang ada dalam bacaan. Dengan pengetahuan yang ada ini membantu pembaca untuk menebak bagian berikutnya. Widdoson menginterprestasikan teori skema dengan perspektif linguistik. Ada dua tingkatan yakni sistematik (yang berkaitan dengan fenologi) dan skematik (latar belakang pengetahuan pembaca). Skema harus ada pada setiap pembaca agar mudah mengikuti bacaan dan dapat menggunakan skema tersebut.
4. Penelitian membaca dalam bahasa kedua
            Aslanian (1985) menyatakan : pengetahuan skematik dapat membantu atau bahkan mengganggu pemahaman terhadap bacaan. Numan (1985) meneliti apakah hubungan tekstual dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan. Kaitan tekstual ini dibagi tiga yakni kaitan logis, referensial, leksikal. Stefensen (1981) persepsi penelitiannya : hubungan tekstual lintas kultural mungkin membantu atau membantu pemahaman pembaca. Walter (1982) dalam penelitiannya mengusulkan strategi menghadapi teks yang sulit, 1) membaca teks secara perlahan, 2) membaca kembali teks tersebut, 3) membuat ringkasan garis besar isi yang dibaca. Pembaca dengan strategi ini banyak mengingat poin umum. Ini dicobakan untuk pembaca yang baik.
5. Membaca dan Konteks Sosial
            Konteks sosial akan menentukan dan motivasi membaca. Dalam konteks sosial yang maju, banyak media tulis maka anggota kelompok masyarakat tersebut akan termotivasi untuk membaca. Sebaliknya masyarakat yang terpencil, tanpa media tulis yang harus dibaca maka anggota kelompok tersebut tidak termotivasi untuk membaca.
6. Jenis Teks Membaca
            Bahasa ada untuk memenuhi fungsi tertentu dan fungsi ini yang akan menentukan struktur teks dan isi bacaan. Bermacam bacaan akan kita temui dalam konteks sosial. Skema kita perlukan untuk memahami dan memperoleh informasi baru dari teks tersebut.
7. Pelajaran Membaca
            Peran guru dikelas akan banyak mempengaruhi minat dan kemauan siswa membaca. Peran itu dapat difokuskan ketrampilan membuat kesimpulan, pengembangan kelancaran membaca, kosakata, membaca ekstensif. Prinsip-prinsip yang mengacu pada pengajaran efektif: 1) Tujuan pengajaran digunakan untuk mengarahkan dan mengorganisir pelajaran, 20 Teori yang luas tentang membaca B2 3) Waktu dikelas untuk belajar, 4) Aktivitas di kelas untuk pengajaran bukan tes, 5) Struktur pengajaran jelas, 6) Variasi aktivitas membaca, 7) kesempatan umpan balik atas membaca siswa, 8) wacana yang nyata, 9) pengajaran berpusat pada siswa.




Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment