Referensi Skripsi Terbaru | Download Skripsi Gratis

Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, May 12, 2012

Pembelajaran Menulis : Pelaksanaan Pembelajaran Menulis


            Dilihat dari prosesnya, pembelajaran menulis menuntut kerja keras guru untuk membuat pembelajarannya di kelas menjadi kegiatan yang menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa “dipaksa” untuk dapat membuat sebuah karangan, tetapi sebaliknya, siswa merasa senang karena diajak guru untuk mengarang atau menulis. Berikut ini Anda dapat mempelajari beberapa kiat yang dapat digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis sebagai suatu proses, yaitu :
1.      Langsung menulis, teori belakangan
            Menulis itu lebih baik dipahami sebagai keterampilan, bukan sebagai ilmu. Sebagai keterampilan, menulis membutuhkan latihan, latihan, dan latihan. Sebagai ilmu komposisi, menulis mengajarkan ada sekian jenis paragraf dengan contoh - contohnya, ada sekian macam deskripsi, sekian macam narasi, sekian macam eksposisi dan masing - masing disertai dengan contoh - contohnya. Ada kalimat inti dan sebagainya, yang kesemuanya itu tidak membuat siswa dapat menulis. Terlalu banyak aturan akan membuat siswa gamang untuk menulis.
            Seperti halnya latihan berenang, tidak dimulai dengan teori. Seseorang yang ingin belajar berenang langsung disuruh menceburkan diri ke dalam air. Di situ ia dapat mulai bermain -main di air, menggerak - gerakkan kaki di dalam air, belajar berani mengambang di air dengan cara berpegangan pada pipa di pinggir kolam, dan seterusnya. Dengan demikian, menulispun dapat dimulai tanpa harus tahu tentang teori - teori menulis. Seseorang yang ingin belajar menulis langsung saja terjun ke dalam kegiatn menulis yang sebenarnya. Ia dapat saja menulis hal - hal yang sederhana tanpa harus mempedulikan apakah tulisannya memenuhi persyaratan komposisi atau tidak. Tulisan yang dibuatnya harus selesai semua. Ia boleh menulis bagian mana saja yang disenanginya dan melanjutkannya kapan saja dan di mana saja. Artinya, penyelesaian karangan itu tidak terbatas pada jam sekolah.

2. Mulai dari manapun boleh
            Tidak ada satu titik awal yang pasti dari mana pelajaran menulis harus dimulai. Guru memulai pelajaran ilmu bumi dengan membawa sebuah kompas ke kelas, menunjukkan arah mata angina, menggambarkan kelas itu sambil menghadap ke utara, menentukan tempat duduk para siswa di kelas yang digambarkan itu. Jadi, dalam pembelajaran sebuah ilmu ada titik mulai yang paling logis. Tidak demikian dengan mengajarkan menulis, kita dapat memulainya dari bagian mana pun yang kita sukai.
            Kita dapat memulainya dengan mengajak siswa menulis cerita, laporan, deskripsi, puisi atau apa saja. Perlu diingat, kata kunci dalam pembelajaran menulis adalah mengajak siswa menulis, bukan mengajarkan menulis. Dengan menggunakan kata kunci seperti itu, siswa dapat kita bawa ke dalam situasi yang menyenangkan, yang dapat membuat siswa mulai menulis. Misalnya Anda sebagai guru menuliskan kata air di papan tulis.
            Kemudian Anda bertanya kepada siswa, apakah mereka mempunyai pengalaman yang menarik dengan air. Pasti jawabannya beragam. Anda dapat mendaftar setiap ide tantang air itu di papan tulis. Sesudah itu, Anda bertanya lebih lanjut, apakah mereka dapat menceritakan pengalaman masing - masing kepada teman sebangkunya.
            Guru dapat meminta kepada siswa yang mendengarkan cerita teman sebangkunya itu mencatat apa yang didengarnya. Setelah cerita selesai, si pencatat dapat menunjukkan hasil catatannya. Itulah hasil kolabaroasi antarteman sebangku. Boleh saja cerita itu kemudian dikembangkan lagi secara imajinatif atau dibiarkan begitu saja. Yang pasti, pada saat itu guru sudah berhasil mengajak para siswanya mengarang yang dimulai dari manap pun. Kesan yang tertanam dalam diri siswa dari kiat yang telah digunakan guru dalam pembelajaran mengarang seperti itu bahwa mengarang itu mudah.
3. Belajar sambil bercanda
            Ketika seseorang menulis, apa pun tulisannya, ia mengerahkan seluruh pengetahuan dan kelaziman kebahasaan yang dimilikinya, termasuk kosakata, tata bahasa, dan sebagainya, di samping juga hal - hal lain yang berkaitan dengan materi tulisannya, bahkan kadang - kadang  juga dengan suasana hatinya pada saat penulisan serta banyak faktor lainnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ketika seseorang menulis, ia mencurahkan seluruh kepribadiannya ke dalam tulisannya. Dengan demikian, guru harus bertindak sangat hati - hati ketika memulai pembelajaran menulis agar kepribadian siswa tidak tersinggung dan agar siswa tidak benci kepada guru dan pelajaran menulis. Untuk itu, guru harus mempunyai banyak teknik yang dapat membuat kelas menjadi cair, tidak tegang. Kelas harus dipenuhi dengan seloroh dan canda yang muncul dari guru ataupun dari siswa. Seloroh dan canda sangat membantu bagi munculnya ide yang segar dalam setiap pelajaran menulis.  
Download Isi Lengkap  dari Makalah Ini :  
 



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment